Dinkes Mimika Gelar Pelatihan Tatalaksana Stunting bagi 26 Puskesmas
- account_circle Admin
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

TIMIKA (Jurnal Timika)
Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika menyelenggarakan pelatihan tatalaksana stunting bagi tim penanganan dari 26 puskesmas se-Kabupaten Mimika.
Kegiatan yang dibuka pada Rabu (14/7/2026) dan berlangsung selama empat hari hingga 18 Juli 2026 bertempat di Hotel Grand Tembaga ini turut melibatkan rumah sakit rujukan, yakni RSUD Mimika, Rumah Sakit Mitra Masyarakat.
Pelatihan ini diikuti oleh tenaga kesehatan dari berbagai latar belakang, mulai dari dokter, perawat, bidan, hingga nutrisionis. Adapun narasumber yang dihadirkan berasal dari Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita Jakarta, yang memiliki pengalaman dalam penanganan stunting secara terpadu.
Kepala Seksi Gizi Dinas Kesehatan Mimika, Hasmawati K, mengungkapkan bahwa meskipun persentase kasus stunting di wilayahnya tercatat sekitar 9,7 persen berdasarkan laporan rutin puskesmas dan posyandu, angka absolutnya tergolong tinggi.
“9 persen dari 32.000 balita itu sekitar 2.000 lebih. Secara absolut kasusnya masih signifikan dan tidak bisa dianggap remeh,” tegasnya kepada awak media di sela-sela kegiatan.
Menurutnya, penanganan stunting harus dilakukan secara komprehensif dan tidak boleh parsial. Deteksi dini, pemantauan pertumbuhan, hingga tatalaksana kasus yang tepat menjadi kunci utama dalam upaya menurunkan angka stunting.

Hasmawati menekankan bahwa intervensi stunting tidak cukup dimulai saat balita atau ibu hamil, melainkan harus sudah dilakukan sejak masa remaja putri. Gizi buruk yang terjadi pada remaja, kurangnya asupan gizi selama kehamilan, serta infeksi berulang pada anak menjadi rantai panjang penyebab stunting yang saling berkaitan.
“Kita tidak bisa hanya fokus pada balita. Jika remaja putri kekurangan gizi, maka saat hamil dan melahirkan, risiko melahirkan anak stunting akan jauh lebih besar,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa anak dengan kondisi stunting sering kali tampak sehat bahkan terlihat gemuk, namun tinggi badannya tidak sesuai dengan usianya. Kondisi ini mencerminkan masalah gizi kronis yang tersembunyi.
“Orang tua mungkin menganggap anaknya baik-baik saja, padahal dampak jangka panjang terhadap kecerdasan dan prestasi sekolah sangat nyata. Stunting bukan hanya masalah tinggi badan, tapi juga masa depan generasi,” ungkapnya.
Hasmawati menyebutkan bahwa Puskesmas Wania dan Puskesmas Mimika Baru mencatat jumlah kasus stunting terbanyak dibandingkan puskesmas lainnya. Hal ini disebabkan oleh jumlah penduduk yang besar dan cakupan balita yang mencapai ratusan.
“Petugas di sana sangat aktif melakukan pemantauan. Karena balitanya banyak, temuan kasus juga otomatis lebih tinggi. Namun kami terus melakukan intervensi, tidak hanya menunggu kasus stunting terdeteksi, tapi juga memantau berat badan yang tidak naik dua kali berturut-turut agar segera dirujuk,” paparnya.
Kegiatan pelatihan ini dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Mimika dari DPA Dinas Kesehatan. Diharapkan melalui pelatihan ini, koordinasi dan pelayanan kesehatan antar puskesmas dan rumah sakit rujukan semakin kuat, sehingga percepatan penurunan stunting di Mimika dapat terwujud secara nyata.
Hasmawati berharap seluruh tenaga kesehatan yang mengikuti pelatihan dapat mengimplementasikan ilmu yang didapat, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi seimbang dan pola asuh yang baik untuk mencegah stunting sejak dini. (Red)
- Penulis: Admin
