Kasus DBD di Puskesmas Timika Mencapai 20 Kasus, Lebih Tinggi dari Tahun Lalu
- account_circle Admin
- calendar_month 2 jam yang lalu
- print Cetak

TIMIKA (Jurnal Timika)
Kepala Puskesmas Timika, dr. Mozes Untung, melaporkan bahwa hingga kemarin (8 Mei) telah tercatat 20 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah kerjanya. Angka ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya, di mana sepanjang tahun 2025 total kasus hanya sekitar 13 kasus, sementara pada tahun 2024 juga tercatat 13 kasus.
“Untuk tahun ini sudah ada total 20 kasus sampai kemarin. Data ini kami perbaharui per 8 Mei. Meskipun pasien ditemukan di rumah sakit atau fasilitas kesehatan lain, selama alamat tinggalnya berada di wilayah kerja kami, maka kami akan turun ke lapangan,” ujar dr. Mozes.
Ia menjelaskan, setiap menerima laporan kasus, pihaknya segera melakukan penyelidikan epidemiologi untuk mencari lokasi rumah pasien. Selanjutnya, tim akan melakukan asesmen lingkungan untuk mendeteksi kemungkinan adanya jentik nyamuk DBD di sekitar rumah. Jika ditemukan, maka akan dilakukan upaya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan pemberian abatisasi.
Selain itu, petugas juga menginstruksikan warga di radius beberapa rumah di sekitar lokasi pasien untuk melakukan pemeriksaan darah dini. Tujuannya guna mendeteksi apakah keluarga atau tetangga terdekat juga terpapar virus dengue. Hingga saat ini, belum ditemukan kasus penularan berantai.
dr. Mozes menjelaskan bahwa virus dengue ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang aktif menggigit dari pagi hingga sore hari. Oleh karena itu, jika dilakukan pengasapan (fogging), harus dilakukan pada pagi hari. Perkembangbiakan nyamuk ini bukan di tanah, melainkan di air yang tidak bersentuhan langsung dengan tanah, misalnya bak mandi, penampungan air, ember kecil, pot bunga, sampah bekas, hingga sela-sela daun tanaman yang menampung air.
“Masa yang dibutuhkan dari telur hingga menjadi nyamuk dewasa adalah satu minggu. Karena itu, saya sarankan agar setiap tempat penampungan air dibersihkan dan dikuras seminggu sekali. Genangan air lebih dari seminggu harus dihindari,” tegasnya.
Ia mengakui bahwa peningkatan kasus DBD dipengaruhi oleh musim hujan dan faktor kebersihan lingkungan sekitar. Namun, ia menekankan bahwa DBD lebih banyak berkaitan dengan pengelolaan kebersihan di dalam rumah, karena sumber nyamuk terdekat justru berasal dari lingkungan tempat tinggal.
“Masyarakat kami harap memiliki kesadaran untuk rutin membersihkan sarang nyamuk di lingkungan rumah masing-masing. Terutama untuk anak-anak sekolah, karena nyamuk banyak berkembang di area tanaman dan tempat gigitan aktif pada pagi hingga sore. Anak-anak bisa tertular di sekolah, kampus, tempat kerja, maupun di rumah,” pungkas dr. Mozes. (Red)
- Penulis: Admin












