HIMPSI Papua Tengah Bentuk Komunitas Psikologi “Lankesa” untuk Atasi Krisis Kesehatan Mental di Timika
- account_circle Admin
- calendar_month 3 jam yang lalu
- print Cetak

TIMIKA (Jurnal Timika)
Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Papua Tengah resmi membentuk sebuah komunitas atau gerakan psikologi bernama Lankesa, kepanjangan dari Langkah Kecil Tumbuh Bersama. Komunitas ini dihadirkan sebagai wadah bagi para pemerhati psikologi, khususnya lulusan psikologi yang memiliki keprihatinan terhadap situasi kesehatan mental di Timika dan sekitarnya.
Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Bidang Organisasi HIMPSI sekaligus Ketua Lankesa, David Setiawan, M.Psi., Psikolog, usai mengikuti konsolidasi organisasi HIMPSI wilayah Papua Tengah di Timika, Selasa (25/05/2026).
Menurut David, Lankesa hadir sebagai gerakan sosial dan kemasyarakatan yang bertujuan mendekatkan layanan psikologi kepada masyarakat yang membutuhkan. Tingginya kasus masalah mental seperti perundungan (bullying), kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), bunuh diri, hingga depresi yang kerap tidak terungkap ke permukaan menjadi alasan utama lahirnya komunitas ini.
“Masalah psikologi ini butuh kesadaran, baik bagi mereka yang mengalami ataupun orang yang punya latar belakang keilmuan psikologi. Jangan sampai menunggu viral dulu baru kita bergerak. Kenapa kita tidak bisa bergerak dari awal? Itulah yang kami inginkan, makanya ada gerakan ini,” ujar David.
Ia menekankan bahwa Lankesa hadir sebagai langkah preventif agar persoalan kesehatan mental dapat ditangani lebih dini sebelum berkembang menjadi kasus yang viral dan lebih kompleks.
David mengungkapkan bahwa keberadaan Lankesa sangat krusial mengingat jumlah psikolog di Timika saat ini masih sangat terbatas, hanya sekitar dua hingga tiga orang. Padahal, kasus psikologis di wilayah tersebut sangat banyak dan sebagian besar tidak muncul ke permukaan.
Selain itu, komunitas ini juga diharapkan menjadi ruang praktik dan pengembangan bagi para lulusan psikologi atau sarjana psikologi asli Timika. Pasalnya, cukup banyak lulusan psikologi yang saat ini bekerja di luar bidangnya, sementara yang aktif berprofesi sebagai psikolog di Timika baru sekitar tiga orang.
“Harapannya kami bisa mengambil peran bagi lulusan psikologi Timika untuk mengaplikasikan ilmunya. Karena ilmu itu kalau tahun pertama masih tersimpan, tapi kalau tidak digunakan, lama-lama akan hilang. Tertutup informasi baru, akhirnya ketika ada pekerjaan, mereka jadi bingung,” terangnya.
Ke depan, Lankesa akan berkolaborasi dengan pemerintah daerah Kabupaten Mimika. Saat ini, fokus awal komunitas adalah memperkuat gerakan di wilayah kota Timika agar lebih dikenal dan mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Setelah itu, layanan akan diperluas ke sekolah-sekolah serta menjangkau wilayah pesisir hingga pedalaman.
Meskipun belum resmi diluncurkan, Lankesa sudah menjadwalkan langkah konkret pertamanya, yaitu membuka stand konsultasi psikologi pada hari Sabtu mendatang, bertepatan dengan kegiatan Car Free Day.
“Sementara ini kami fokus di Kota Timika. Kami akan buat program supaya dikenal dan mendapat kepercayaan masyarakat. Baru kemudian kami turun ke sekolah-sekolah, pesisir, dan pegunungan. Tetap kami akan berkolaborasi dengan Pemerintah Mimika,” pungkas David Setiawan. (Red)
- Penulis: Admin











