DP3AP2KB Mimika Dorong Diversifikasi Pangan Lokal untuk Cegah Stunting dan Tingkatkan Ekonomi Keluarga
- account_circle Admin
- calendar_month 29 menit yang lalu
- print Cetak

TIMIKA (Jurnal Timika)
Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Mimika mengajak masyarakat untuk kembali mengonsumsi pangan lokal sebagai langkah strategis mencegah stunting sekaligus meningkatkan perekonomian keluarga.
Kepala DP3AP2KB Mimika, Johana Anatje Belandina Arwam, menyampaikan belum lama ini. Menurutnya, kekayaan pangan lokal seperti petatas (ubi jalar), umbi-umbian, pisang, dan sagu memiliki kandungan gizi yang tidak kalah dengan beras.
“Kalau kita lihat kandungan gizi dalam sagu itu cukup baik. Hanya saja, selama ini pengolahannya itu-itu saja, dibakar, dikukus, atau dibuat papeda. Anak-anak pasti bosan,” ujar Johana.
Ia mencontohkan, saat ini banyak anak lebih memilih nasi dibandingkan pangan lokal. Padahal, dengan kreativitas, pangan lokal bisa diolah menjadi sajian yang lebih menarik sehingga anak-anak mau mengonsumsinya.
“Kami berharap pangan lokal tidak hanya dikonsumsi dalam keluarga, tetapi juga bisa menjadi sumber pendapatan. Misalnya, ikan yang biasanya hanya dibakar atau digoreng, kalau diolah menjadi nugget atau produk lain yang berbeda, pasti anak-anak lebih suka,” jelasnya.
Johana menekankan bahwa diversifikasi pangan lokal memberikan manfaat ganda. Pertama, membantu pemenuhan gizi anak sehingga dapat menekan angka stunting di Kabupaten Mimika. Kedua, membuka peluang usaha bagi keluarga untuk meningkatkan pendapatan.
“Stunting tidak hanya soal kekurangan gizi, tetapi juga terkait dengan kondisi ekonomi keluarga. Dari hasil olahan pangan lokal, masyarakat bisa mendapatkan tambahan penghasilan,” tambahnya.
Mimika memiliki keragaman pangan lokal dari wilayah pesisir hingga pegunungan. Namun, ia mengakui masih banyak masyarakat yang menganggap pangan lokal sebagai makanan kelas dua. Karena itu, ia mendorong inovasi pengolahan agar pangan lokal lebih diminati, mulai dari keluarga hingga sektor usaha.
“Tidak semua orang bisa keluar dari kondisi kekurangan gizi hanya dari satu sisi. Dari sisi ekonomi, mereka bisa bangkit melalui pengolahan pangan lokal yang bernilai jual,” pungkas Johana.
DP3AP2KB Mimika berencana menggandeng kelompok perempuan dan kader PKK untuk menggelar pelatihan pengolahan pangan lokal guna menciptakan produk-produk inovatif yang bergizi dan bernilai ekonomi. (Red)
- Penulis: Admin








