BMKG: Hujan di Mimika Dipicu Siklon Tropis, Pegunungan Masih Kering
- account_circle Admin
- calendar_month 4 jam yang lalu
- print Cetak

TIMIKA (Jurnal Timika)
Di tengah pengaruh El Nino yang masih kuat, hujan masih mengguyur sejumlah wilayah Kabupaten Mimika dalam beberapa hari terakhir. Kondisi itu menimbulkan pertanyaan, karena El Nino umumnya menyebabkan berkurangnya curah hujan di wilayah Indonesia.
Menanggapi hal tersebut, BMKG Mozes Kilangin Mimika menduga hujan yang terjadi di wilayah pesisir dan Kota Timika saat ini dipengaruhi oleh keberadaan siklon tropis di kawasan Pasifik.
Forecaster BMKG Mozes Kilangin Mimika, Dwi Christanto, menjelaskan secara normal kondisi El Nino menyebabkan massa udara dari Australia bergerak menuju wilayah Pasifik sehingga pembentukan awan hujan di Mimika menjadi lebih terbatas. Namun, pola tersebut saat ini diduga terganggu oleh adanya sistem siklon tropis di sebelah timur Filipina.
Dwi menjelaskan, suhu permukaan laut di sekitar Kabupaten Mimika saat ini relatif dingin sehingga potensi pertumbuhan awan hujan secara lokal menjadi lebih kecil. Sebaliknya, kondisi laut di wilayah Australia relatif lebih hangat sehingga proses pertumbuhan awan berlangsung lebih aktif.
Awan yang terbentuk di wilayah Australia tersebut kemudian bergerak menuju Papua Selatan dan melewati Mimika akibat pola pergerakan angin yang dipengaruhi sistem siklon tropis tersebut.
“Awan hujannya dari arah Papua Selatan bergerak ke Mimika. Ketarik karena adanya tropical cyclone yang dicurigai,” ujarnya saat diwawancarai, Jumat (25/09/2026).
Pengaruh sistem siklon tropis tersebut diperkirakan masih menyebabkan hujan ringan hingga sedang di wilayah Mimika hingga Sabtu, 26 September 2026. Ia menambahkan, siklon tropis pada dasarnya berpotensi membawa hujan maupun angin kencang. Namun, untuk wilayah Mimika, dampak yang dirasakan saat ini lebih berupa peningkatan curah hujan.
Sayangnya, kondisi serupa tidak terjadi di wilayah pegunungan yang sudah hampir enam bulan mengalami kekeringan. Menurut Dwi, pengaruh siklon tropis yang dicurigai tersebut tidak terlalu berdampak terhadap wilayah pegunungan karena karakteristik atmosfer dan ketersediaan uap air berbeda dengan wilayah pesisir. Kekeringan di pegunungan diprediksi masih berlangsung hingga fenomena El Nino selesai di awal 2027.
“Wilayah pegunungan cenderung dingin tetapi kering. Apalagi El Nino masih kuat hanya berpotensi hujan beku tetapi tidak terjadi hujan,” tambahnya.
Sementara itu, wilayah yang saat ini berpotensi mengalami hujan lebih tinggi adalah daerah pesisir dan wilayah kota selama pengaruh sistem siklon tropis tersebut masih ada.
“Wilayah yang berpotensi hujan adalah daerah pesisir dan wilayah kota kalau siklon tropis yang dicurigai itu masih ada. Tapi nanti 26 September akan berakhir, kita akan kembali ke kemarau,” pungkasnya. (Red)
- Penulis: Admin
