DLH Mimika Sosialisasikan Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca lewat Aplikasi SIGN-SMART
- account_circle Admin
- calendar_month 5 menit yang lalu
- print Cetak

TIMIKA (Jurnal Timika)
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Mimika menggelar sosialisasi pengendalian emisi gas rumah kaca sekaligus pengenalan dan penginputan data inventarisasi gas rumah kaca melalui aplikasi SIGN-SMART, Senin (23/8/2026).
Kegiatan ini bertujuan sebagai upaya pengendalian pemanasan global yang semakin mengkhawatirkan. Peningkatan emisi gas rumah kaca telah berdampak nyata pada perubahan pola cuaca, risiko kekeringan, hingga ketersediaan sumber air di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Papua.
Kepala Bidang Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan pada DLH Mimika, Algertho Asmuruf, menjelaskan bahwa sejumlah instansi dilibatkan dalam program ini, khususnya yang berkaitan langsung dengan sumber emisi gas rumah kaca, seperti sektor kehutanan, perindustrian, dan perhubungan.
“Ini bertujuan untuk penanganan perubahan iklim, baik melalui adaptasi maupun mitigasi perubahan iklim. Jadi kita perlu data dari berbagai sumber,” kata Algertho saat diwawancarai.

DLH Mimika juga membentuk Pokja yang akan tergabung dalam aplikasi SIGN-SMART. Pokja ini bertugas menjadi sumber data dari berbagai sektor, mulai dari kehutanan, perhubungan, pertanian, hingga perindustrian.
Data yang terkumpul nantinya akan diverifikasi dan dianalisis oleh DLH sebagai leading sector. Hasil analisis tersebut akan menjadi dasar untuk mengetahui tingkat dampak dan pencemaran yang ditimbulkan, serta solusi apa yang akan diterapkan untuk mengurangi dampak pencemaran lingkungan.
“Data-data misalnya luasan hutan, kebakaran hutan, data kendaraan sesuai tipe masing-masing karena menghasilkan gas CO2. Dari hasil kajian kita bisa tetapkan tingkat pencemarannya apakah berat atau ringan,” tambahnya.
Algertho menjelaskan bahwa gas rumah kaca merupakan gas yang dihasilkan dari berbagai aktivitas manusia. Beberapa di antaranya adalah karbon dioksida (CO₂) dan metana (CH₄) yang berkontribusi signifikan terhadap pemanasan global. Peningkatan emisi dari berbagai aktivitas, termasuk sektor industri dan kehutanan, dapat memperburuk kondisi lingkungan seperti kekeringan dan perubahan iklim ekstrem.
Salah satu fenomena yang kerap dikaitkan dengan kondisi ini adalah El Nino yang memperparah dampak kekeringan di sejumlah daerah.
“Kalau dulu sumber air terasa dekat, sekarang masyarakat harus mencari sumber air yang lebih jauh. Ini menjadi salah satu gambaran dampak perubahan kondisi lingkungan yang kita rasakan,” pungkasnya.
Dengan adanya sosialisasi ini, DLH Mimika berharap pengelolaan data emisi dapat berjalan lebih terstruktur sehingga langkah-langkah mitigasi perubahan iklim di Kabupaten Mimika dapat dilakukan secara tepat dan berkelanjutan. (Red)
- Penulis: Admin








