Dinkes Mimika Latih Petugas Pustu Demi Jangkau Pasien TBC di Kampung Terpencil
- account_circle Admin
- calendar_month 58 menit yang lalu
- print Cetak

TIMIKA (Jurnal Timika)
Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika resmi memulai pelatihan intensif metode TB DOTS bagi petugas Puskesmas Pembantu (Pustu) gelombang pertama. Kegiatan yang berlangsung di Hotel Grand Tembaga pada Selasa (2/6/2026) ini bertujuan untuk memperluas akses layanan tuberkulosis hingga ke pelosok kampung.
Selama ini, peran Pustu dalam penanganan TBC masih minim. Padahal, menurut Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Mimika, Kamaludin, banyak warga kampung seperti di Nawaripi yang terkendala jarak jauh ke puskesmas induk atau rumah sakit.
“Kami berharap teman-teman Pustu setelah dilatih mampu berkontribusi aktif. Mulai dari skrining di kampung sendiri, memulai pengobatan, hingga pemantauan. Pasien tidak perlu lagi keluar biaya transportasi mahal hanya untuk ambil obat ke Wania,” jelas Kamaludin.
Dalam pelatihan ini, para petugas dibekali keterampilan holistik: pemeriksaan, diagnosis, terapi pencegahan, investigasi kontak, hingga pencatatan dan pelaporan kasus. Targetnya, angka putus obat akibat jarak tempuh yang jauh bisa ditekan.
Data Dinkes Mimika mencatat sepanjang 2025 terdapat 2.407 pasien TBC dalam pengobatan. Namun angka kesembuhan baru mencapai 76 persen, masih jauh dari target nasional 90 persen. Sementara periode Januari-Mei 2026 sudah tercatat 982 pasien menjalani terapi.
“Setelah Pustu terlatih, kami optimistis cakupan kesembuhan meningkat, sekaligus memperkuat penemuan kasus baru di wilayah masing-masing,” tegas Kamaludin.
Terpisah, narasumber Dinkes Mimika, Maya Samuel, mengungkapkan program pendukung yakni Desa dan Kelurahan Siaga TB. Konsep ini mendorong setiap wilayah memiliki komitmen, sumber daya, dan kemampuan mandiri dalam pencegahan serta penanggulangan TBC.
Indikator keberhasilan program ini meliputi rasio pengobatan, terapi pencegahan, serta capaian per desa/kelurahan yang dimonitor setiap bulan. Kriteria desa siaga TB antara lain adanya komitmen pemerintah setempat, kader aktif, ketersediaan puskesmas atau pustu, posyandu, serta promosi kesehatan yang berkelanjutan.
“Tujuannya mempercepat penemuan kasus, memastikan pengobatan tuntas, menekan penularan, dan memudahkan akses layanan TB bagi masyarakat,” pungkasnya. (Red)
- Penulis: Admin













