Dinkes Mimika Evaluasi Cakupan Ibu Bersalin, Dinkes Soroti Perilaku & Lonjakan HIV/AIDS
- account_circle Admin
- calendar_month 36 menit yang lalu
- print Cetak

TIMIKA (Jurnal Timika)
Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Kesehatan setempat menggelar pertemuan evaluasi cakupan program ibu bersalin di Hotel Grand Tembaga, Jumat (29/5/2026). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pelayanan kesehatan ibu bersalin serta menekan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB).
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Godfried Maturbongs, dalam sambutannya menekankan bahwa perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci utama. Menurutnya, upaya tersebut tidak hanya penting dalam layanan persalinan, tetapi juga terkait pencegahan HIV/AIDS dan Infeksi Menular Seksual (IMS).
“HIV/AIDS dan IMS berawal dari perilaku manusia yang tidak terkontrol. Keberhasilan pengendalian penyakit ini tergantung pada perubahan pola perilaku. Ini bukan hanya tanggung jawab Dinas Kesehatan, tetapi kita semua—tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh perempuan, tokoh masyarakat, dan LSM,” ujar Godfried.
Ia mengakui, Kabupaten Mimika mengalami percepatan pembangunan yang pesat. Namun di sisi lain, daerah ini juga menghadapi tantangan serius berupa perilaku seksual bebas yang masif, termasuk di luar lokalisasi serta melalui kemajuan teknologi dan aplikasi pertemuan.
Data HIV/AIDS Mimika: 489 Kasus Baru di 2025
Narasumber dari Puskesmas Pasar Sentral, Yoan Tauran, memaparkan data situasi HIV/AIDS dan IMS di Kabupaten Mimika tahun 2025. Sepanjang tahun tersebut, ditemukan 489 kasus baru HIV-AIDS, terdiri dari 227 kasus infeksi HIV (46,42%) dan 262 kasus AIDS (53,58%).
Secara kumulatif sejak 1996 hingga 2025, jumlah kasus HIV-AIDS mencapai 8.410 kasus, dengan rincian 4.067 infeksi HIV (48,48%) dan 4.343 AIDS (51,52%).
Yoan Tauran mengungkapkan, pada periode 2017-2025, jumlah kasus AIDS secara konsisten lebih tinggi dibandingkan kasus HIV setiap tahunnya—berbeda dengan periode 1996-2016. Hal ini mengindikasikan masih banyak kasus baru yang terdeteksi pada stadium lanjut (AIDS).
“Kondisi ini menunjukkan perlunya penguatan deteksi dini HIV, peningkatan akses layanan pengobatan tepat waktu, serta edukasi masyarakat berkelanjutan agar penyakit tidak berkembang ke tahap yang lebih berat,” jelasnya.
Pola penularan infeksi HIV didominasi oleh hubungan seksual sebesar 97,56%, diikuti penularan ibu ke anak (2,22%) dan paparan lainnya (0,22%).
Dinas Kesehatan mengundang para direktur rumah sakit, kepala puskesmas, serta pimpinan klinik untuk menugaskan satu orang penanggung jawab program ibu bersalin sebagai peserta dalam pertemuan evaluasi tersebut. (Red)
- Penulis: Admin











