Dinkes Tingkatkan Layanan Balita Guna Perkuat MTBS
- account_circle Admin
- calendar_month 18 menit yang lalu
- print Cetak

TIMIKA (Jurnal Timika)
Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Kesehatan menggelar kegiatan pertemuan penguatan manajemen Terjadi Balita Sakit (MTBS) tahun 2026.
Dimana kegiatan ini sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) di Kabupaten Mimika, termasuk puskesmas, puskesmas pembantu, dan klinik, ternyata belum sepenuhnya menerapkan pendekatan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). Akibatnya, risiko keterlambatan penanganan kasus serius seperti pneumonia, diare berat, dan gizi buruk pada balita masih tinggi.
Kondisi ini mendorong Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika menggelar Pertemuan Penguatan MTBS tahun 2026. Kegiatan yang berlangsung Selasa (9/6/2026) itu diikuti 70 peserta, terdiri dari dokter dan penanggung jawab MTBS dari 26 puskesmas, serta perwakilan dari Klinik Bersalin Julia, Klinik Aisah Care, Klinik Pemda Utikini Baru, Klinik Pomako, dan Klinik Wangirja.
Kepala Seksi Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan Mimika, Nelly Siburian, mengungkapkan keprihatinannya. Menurutnya, sebagian layanan kesehatan anak masih dilakukan berdasarkan gejala secara terpisah, bukan dengan pendekatan terintegrasi seperti yang direkomendasikan WHO dan Kementerian Kesehatan RI.
“Pendekatan terpisah itu berisiko tidak terdeteksinya tanda bahaya pada balita. Akibatnya, rujukan untuk kasus serius seperti pneumonia, diare berat, dan gizi buruk sering terlambat. Selain itu, kualitas data pelayanan kesehatan anak juga belum optimal,” ujar Nelly saat diwawancarai.
Padahal, MTBS dirancang sebagai pendekatan menyeluruh yang mencakup penilaian gejala, status gizi, imunisasi, hingga konseling pemberian makan. Jika diterapkan dengan benar, angka kematian dan kesakitan balita bisa ditekan secara signifikan.
Melalui pertemuan ini, Dinas Kesehatan Mimika menargetkan sejumlah hal. Pertama, peningkatan pemahaman tenaga kesehatan tentang algoritma MTBS. Kedua, penyamaan standar diagnosis dan tata laksana balita sakit. Ketiga, validasi data program bayi baru lahir. Keempat, penyusunan rencana tindak lanjut (RTL) dari setiap FKTP agar penerapan MTBS berjalan konsisten.
“Kami ingin menyegarkan kembali pemahaman dokter dan penanggung jawab tentang algoritma standar MTBS dan skrining Bayi Baru Lahir (BBL). Juga melakukan validasi data dan evaluasi capaian program pelayanan kesehatan bayi baru lahir tahun 2026,” pungkas Nelly.
Nelly berharap setelah pertemuan ini terbentuk kesepahaman bersama antara dokter, bidan, dan perawat dalam menerapkan algoritma MTBS. Selain itu, ia juga ingin ada daftar lengkap FKTP beserta kendala implementasinya, yang nantinya menjadi pijakan untuk perbaikan program ke depan.
“Intinya, jangan sampai ada balita sakit yang datang ke fasilitas kesehatan lalu tanda bahayanya tidak terdeteksi. Ini menyangkut nyawa anak-anak Mimika,” tegasnya. (Red)
- Penulis: Admin












