DP3AP2KB Mimika Jadikan 100 Perempuan Lintas Organisasi sebagai Ujung Tombak Pemberdayaan di Akar Rumput
- account_circle Admin
- calendar_month 6 menit yang lalu
- print Cetak

TIMIKA (Jurnal Timika)
Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Mimika menyatukan kekuatan sekitar 100 pengurus dari berbagai organisasi perempuan dalam Pelatihan Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang digelar di Hotel Grand Tembaga, Selasa (23/6/2026).
Kegiatan dua hari ini bukan hanya ajang penyegaran teori, tetapi upaya strategis menyamakan visi agar program pemberdayaan di lapangan tidak tumpang tindih dan tepat menyentuh kebutuhan masyarakat.
Pelatihan ini menghadirkan representasi lengkap dari PKK, Dharma Wanita Persatuan (DWP), Bhayangkari, Persit, hingga organisasi perempuan lintas denominasi gereja. Dengan komposisi peserta yang beragam, DP3AP2KB menargetkan terbentuknya jaringan kerja yang solid di tingkat kampung dan kelurahan.
Kepala DP3AP2KB Kabupaten Mimika, Johana Anatje Belandina Arwam, menegaskan bahwa para pengurus organisasi perempuan adalah “tangan panjang” pemerintah yang paling efektif dalam menjangkau masyarakat hingga ke pelosok. Menurutnya, peningkatan kapasitas bukan hanya soal administrasi, tetapi bagaimana perempuan mampu membaca persoalan sosial di lingkungannya dan bertindak cepat.
“Kami ingin para ibu ini tidak hanya pandai mengatur organisasi, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan di rumah tangga dan lingkungan terdekat. Sebab, ketahanan sebuah daerah dimulai dari ketahanan keluarganya, dan perempuanlah yang memegang kendali utama di sana,” ujar Johana.

Sementara itu, Staf Ahli Bupati Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, Petrus Pali Ambaa, yang mewakili Bupati Mimika, menekankan bahwa kolaborasi lintas organisasi seperti ini adalah kunci menghadapi tantangan perlindungan perempuan dan anak ke depan. Ia mengingatkan bahwa perlindungan terhadap perempuan bukan hanya tugas dinas terkait, melainkan komitmen kolektif seluruh elemen.
“Bhayangkari ada, Persit ada, DWP ada, dan gereja juga hadir. Ini menunjukkan bahwa perlindungan perempuan adalah gerakan semua pihak. Kami tidak ingin ada lagi perempuan Mimika yang menjadi korban ketidakadilan hanya karena akses informasi dan perlindungan tidak sampai ke mereka,” tegas Petrus.
Ia berharap, hasil dari pelatihan ini tidak berakhir di ruang seminar. Para peserta didorong untuk turun langsung mengedukasi sesama perempuan tentang hak-hak mereka, pengelolaan ekonomi keluarga, hingga pencegahan kekerasan dalam rumah tangga.
“Dengan perempuan yang berdaya, mandiri, dan terlindungi, saya yakin Mimika akan maju dari akar rumput. Mari kita jadikan organisasi-organisasi ini sebagai benteng moral dan sosial bagi pembangunan daerah ke depan,” pungkas Petrus.
Melalui penguatan kapasitas ini, DP3AP2KB berharap organisasi perempuan di Mimika tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, tetapi menjadi gerakan kolektif yang solid untuk mewujudkan Mimika yang aman, adil, dan bermartabat bagi seluruh perempuannya. (Red)
- Penulis: Admin












