Mimika Bertransformasi: dari Eksploitasi SDA Menuju Ekonomi Berbasis Pengetahuan
- account_circle Admin
- calendar_month 30 menit yang lalu
- print Cetak

TIMIKA (Jurnal Timika)
Pemerintah Kabupaten Mimika, Papua Tengah, resmi mengakselerasi transformasi pembangunan daerah dengan menggeser paradigma dari eksploitasi sumber daya alam menuju ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy). Langkah strategis ini ditandai dengan peluncuran Mimika Innovation Week (MIW) 2026 oleh Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Mimika di Graha Eme Neme Yauware, Selasa (9/6/2026).
Memasuki tahun ketiga, MIW tidak lagi sekadar agenda seremonial. Kegiatan ini berkembang menjadi sayembara inovasi terbuka yang dirancang membangun ekosistem riset inklusif dan berkelanjutan, guna mewujudkan Mimika yang maju, adaptif, dan berdaya saing.
Bupati Mimika, Johannes Rettob, menegaskan bahwa di tengah dinamika global dan kompleksitas tantangan pembangunan, riset dan inovasi kini menjadi fondasi utama dalam perumusan kebijakan berbasis data (evidence-based policy).

Suasana kegiatan Brida
“Kita tidak bisa lagi bekerja hanya berdasarkan intuisi. Setiap kebijakan harus dilandasi riset yang kuat. Kekayaan alam Mimika justru bisa menjadi bumerang jika tidak dikelola secara cerdas dan ilmiah,” tegasnya.
Salah satu persoalan klasik birokrasi—tumpang tindih kajian tanpa hilirisasi yang jelas—menjadi perhatian utama dalam MIW 2026. Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala BRIDA Mimika, Slamet Sutejo, menyebut MIW tahun ini mengusung misi besar mengintegrasikan seluruh hasil riset daerah agar tidak lagi berakhir sebagai dokumen tersimpan tanpa pemanfaatan.
Melalui aplikasi Sirida Kami (Sistem Riset dan Inovasi Daerah), Pemkab Mimika menghadirkan satu pintu digital yang menyatukan seluruh data dan kajian sekaligus membuka akses bagi publik. Data BRIDA menunjukkan lonjakan signifikan: dari hanya satu kajian pada 2015 menjadi 36 kajian komprehensif pada 2025.
“Kami membuka partisipasi seluas-luasnya. MIW 2026 tidak hanya melibatkan OPD, tetapi juga perguruan tinggi, instansi vertikal, BUMN, pemerintah kampung, jurnalis, hingga kelompok disabilitas,” jelas Slamet.
Setiap OPD diwajibkan menghasilkan minimal dua inovasi pada tahun ini. Seluruh inovasi akan melalui proses kurasi ketat sebelum diumumkan pada 17 Agustus 2026. Sepuluh inovasi terbaik akan mewakili Mimika dalam ajang nasional Innovative Government Award (IGA) 2026 yang diselenggarakan Kementerian Dalam Negeri.
Kinerja inovasi Kabupaten Mimika menunjukkan tren positif. Pada indeks inovasi nasional, Mimika berhasil naik dari peringkat ke-300 pada 2024 ke posisi 200 besar pada 2025, menempatkannya di paruh atas dari 415 kabupaten di Indonesia. Di wilayah Papua, Mimika kini menempati posisi kedua terbaik.
“Target kita bukan hanya unggul di Papua, tetapi mampu bersaing secara kualitas dengan daerah maju di Indonesia Barat,” ujar Johannes.
Salah satu capaian strategis adalah pelaksanaan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) mandiri tingkat kabupaten, yang menjadi dasar perumusan kebijakan kesehatan berbasis lokal.
Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Yopi, mengapresiasi inovasi berbasis regulasi yang mengintegrasikan kearifan lokal. Ia mendorong ekosistem inovasi Mimika diarahkan pada visi jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045.
“Inovasi tidak boleh terjebak dalam siklus politik jangka pendek. Harus ada visi hingga 2045, dengan percepatan hilirisasi melalui konsep Rumah Inovasi sebagai pusat layanan terpadu,” ujarnya.
Pemkab Mimika juga menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan BRIN dan sejumlah perguruan tinggi. Kerja sama dengan BRIN membuka akses terhadap lebih dari 10.000 peneliti nasional, sementara kolaborasi dengan kampus lokal diharapkan mampu menjembatani kesenjangan antara dunia akademik dan kebutuhan riil pembangunan daerah.
Bupati Johannes memberikan tantangan kepada kalangan akademisi dan mahasiswa untuk lebih berkontribusi nyata. “Mahasiswa jangan hanya vokal di media sosial. Harus ada solusi konkret melalui riset dan pengabdian masyarakat sesuai Tri Dharma Perguruan Tinggi,” tegasnya.
Melalui pendekatan kolaboratif pentahelix—melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media—MIW 2026 diharapkan mampu menghapus ego sektoral dan mempercepat lahirnya inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat. Momentum ini sekaligus memproyeksikan Mimika sebagai pusat inovasi unggulan di kawasan timur Indonesia serta model percontohan pembangunan berbasis riset di Tanah Papua. (Red)
- Penulis: Admin












