Pembangunan Fisik Terhambat
- account_circle Admin
- calendar_month 8 menit yang lalu
- print Cetak

TIMIKA (Jurnal Timika)
OBupati Mimika, Johannes Rettob, mengungkapkan bahwa kenaikan harga barang secara nasional menjadi salah satu penyebab utama lambatnya pembangunan fisik di Kabupaten Mimika, Papua Tengah.
Pernyataan itu disampaikan di Hotel Horison Diana, Mimika, Rabu (20/5/2026).
Bupati menyadari bahwa banyak masyarakat mengkritisi pembangunan infrastruktur yang dinilai tidak berjalan. Menurutnya, ada sejumlah catatan penting yang perlu dipahami bersama.
“Kenapa pembangunan infrastruktur tidak jalan? Harga-harga barang sekarang hampir seluruh Indonesia meningkat 22 persen. Misalnya kita ambil material di Surabaya, dia naik 22 persen, belum lagi kalau kita bawa ke sini,” ujar Johannes Rettob.
Selain kenaikan harga, biaya transportasi juga menjadi kendala signifikan. Pemerintah daerah saat ini tengah melakukan peninjauan ulang terhadap harga satuan pekerjaan.
“Transportasi saja mahal. Ini bukan hanya di Mimika. Saya ini Wakil Ketua APKASI (Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia). Ini sering kami bicarakan dalam grup terkait pembangunan secara keseluruhan. Makanya rata-rata daerah melakukan evaluasi,” tuturnya.
Bupati mengungkapkan bahwa saat ini kegiatan yang berjalan baru sebatas belanja jasa, sementara belanja infrastruktur fisik hampir belum ada yang berjalan.
“Belanja infrastruktur hampir praktis belum jalan karena kita harus mengubah dulu angka-angka harga satuan,” katanya.
Untuk menanggulangi minimnya pembangunan akibat mahalnya harga barang, Pemkab Mimika berencana mengurangi volume pekerjaan. Langkah ini ditempuh agar kontraktor tidak terbebani dan bersedia mengikuti proses tender.
“Sekarang saya tanya, kalau harganya mahal, kontraktor mau kerja? Volumenya kita buat jalan 1 kilometer, terus uangnya untuk 1 kilometer cuma Rp10 juta. Terus kita paksakan kontrak dengan Rp10 juta, dia mau atau tidak? Tidak ada yang ikut tender nanti. Makanya kami review. Uang tidak mungkin kita tambah, yang kita lakukan adalah mengurangi volume. Rata-rata semua begitu,” paparnya.
Bupati Johannes Rettob menekankan bahwa lambatnya pembangunan fisik bukan hanya terjadi di Mimika, melainkan hampir seluruh Indonesia. Jika ada daerah yang tetap melaksanakan pembangunan fisik, menurutnya itu adalah program tahun jamak (multiyears).
“Orang bilang di kabupaten lain sudah jalan. Ya itu kabupaten yang jalan itu multiyears rata-rata. Tetapi kalau untuk program tahun-tahunan, hampir praktis tidak ada,” pungkasnya. (Red)
- Penulis: Admin











