Mimika ( Jurnal Timika ) – Jenazah dengan identitas Jori Murib dikremasi di perbatasan antara kubu Newegalen dan Dang yang terlibat bentrok di Kampung Amole, Distik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika, Selasa (6/1/2026) sore.
Proses kremasi Jori yang ditolak kedua kubu akhirnya dilakukan oleh pihak Pemerintah dan keluarganya.
Sesaat jenazah Jori akan dikremasi didekat Polsek Kwamki Narama, salah satu kubu yang bertikai diduga dari kelompok Dang melepaskan panah kepada rombongan Wakil Bupati Naftali Akawal dan Plt Sekda Kabupaten Puncak Nenu Tabuni, beruntung, aparat yang berada di lokasi sigap membubarkan kelompok tersebut dengan gas air mata.
Akibat penyerangan itu, Wakil Bupati dan Plt Sekda langsung dievakuasi, momen ketengangan pun mereda, dan Plt Sekda kembali ke Polsek Kwamki Narama melanjutkan prosesi.
Setelah kembali dan berdiskusi dengan keluarga, juga tokoh setempat, akhirnya disetujui proses kremasi Jori dilanjutkan, dikawal anggota Brimob dan Polres, kayu bakar yang telah disiapkan oleh Polres pun disusun di lokasi yang telah disepakati.
Selama prosesi, Danyon B Satbrimob Polda Papua Tengah Kompol Umbu Sairo bersama personelnya melakukan pengamanan di sekitar lokasi.
Plt Sekda Kabupaten Puncak Nenu Tabuni dalam penyampaiannya menyebut, pemerintah Puncak dan Mimika hadir sebagai perpanjangan tangan dari Provinsi juga pihak keamanan hadir untuk melakukan perdamaian dimulai dengan pelaksanaan kremasi jenazah Jori.
“Kami atas nama dua kabupaten, Mimika dan Puncak, kita sudah koordinasi dengan atasan kami. Oleh karena itu, petunjuk Pak Gubernur, Pak Kapolda, Pak Danrem, Pak Kabinda, dan Pak Pangdam Jayapura, mereka arahkan untuk Bupati Mimika, Puncak, Kapolres, dan Pak Dandim akan pimpin untuk negosiasi,” katanya.
“Pertama, negosiasi terkait dengan pemakaman atau pembakaran yang sedang kita sudah lakukan,” imbuhnya.
Menurut Nenu, negosiasi dilakukan sejak Senin kemarin, secara kekeluargaan, hingga terbangun komunikasi, dan akhirnya dilakukan pembakaran secara adat.
“Yang kedua, arahan dari petinggi kami (Gubernur) bahwa harus lakukan perdamaian. Tapi perdamaian ini banyak tahapan dari sisi adat. Jadi kedua belah pihak, dengan adanya Jori (korban), ini tanda bahwa perang aman (selesai), kami pemerintah katakan perang aman, atau tidak boleh lagi ada, ditandai dengan adanya kita bakar Jori ini, jangan sampai ada perang suku lagi,” tuturnya.
Nenu berahap dengan proses kremasi Jori ini menjadi yang terakhir dalam bentrok yang terjadi di Kwamki Narama. (Red)
